Kesan pertama begitu memPESONA, lalu TAARUF aaah

15Sep08

Lihat judul entri ini, “Kesan pertama begitu mempesona, lalu taaruf….”

Jadi pengen nambahin, “… trus khitbah deh”:mrgreen:

Melihat tanggal posting entry sebelumnya ketahuan kalau saya lama gak ngeblog bahkan untuk blogwalking sekalipun. Posting terakhir saya bercerita tentang akan diadakannya ospek/pelonco yang leih dikenal dengan nama Pesta (Pesona Taaruf) dan Pekta (Pekan Taaruf), maka kali ini saya akan melaporkan kejadian-kejadian yang kualamin pas Pesta itu.


Kuliah perdana (pengarahan Pesta)

Dresscode wajib adalah baju putih + dasi item + celana item + sepatu item + pake peci item (bagi yang rada gelap mungkin bakal kelihatan kayak baju terbang):mrgreen: Ditambah cocard, semacam IDcard norak yang digantung di leher. Sebenarnya saya ingin menunjukkan fotonya di sini, tapi cocardnya ketinggalan di asrama. Mungkin sekarang sudah dienyahkan oleh para pengurus😦

Oh iya, cocard baru dipakai pas Pesta sudah dimulai.

Jam masuk masih sangat wajar, jam 7 pagi. Begitu saya memasuki boulevard UII, terlihat berbagai ukuran dan bentuk tangan melambai-lambai. Tangan-tangan itu memegang Peci dan Dasi item, juga menawarkan jas pembuatan scocard instan yang memang diwajibkan untuk dipakai oleh maba-miba. Saya tidak tahu seharga berapa mereka menjualnya, yang pasti diatas harga standar, berkali lipat malah. Bersyukurlah malam sebelumnya saya masih sempat membongkar ‘kotak wasiat’ di gudang asrama Kalsel dan menemukan Peci warisan yang sudah agak kusam dan hampir kehilangan warna hitamnya secara parsial (Jangan-jangan ini yang bikin saya gampang dikenali pas Pesta?) Saya juga berusaha mati-matian untuk bikin cocard sendiri, harga yang dipatok bisa sampai 70ribuan tapi menurun seiring mendekatnya waktu pesta.

Hari pertama Pesta

Udah mulai parah, masuk jam 6 pagi. Baru masuk di depan boulevard pasukan penertib sudah teriak-teriak nyari perhatian menertibkan maba-miba. Yang berbuat kesalahan disuruh maju dan menyanyikan lagu nasional atau azan, berhubung hari itu bertepatan (cuman beda satu hari) dengan tanggal proklamasi kemerdekaan Endonesia.

Peserta dibagi menjadi berpuluh-puluh jamaah yang diberi nama tokoh-tokoh Islam, saya sendiri mendapat jamaah Al-Qurthubi. Sepengetahuan saya total maba-miba tahun ini sejumlah 3700an orang, dan sekitar 480 orang diantaranya adalah maba-miba Teknik Informatika. Mmm.. mungkinkah ini memecahkan rekor di UII?

Saya baru tahu kalau nama Nanang bukan cuman milik Banjar, soalnya pemandu jamaah saya yang cowok bernama Nanang dan dia malah tidak memiliki darah Kalimantan sama sekali. Sebagai informasi ‘Nanang’ adalah sebutan untuk anak cowok di Kalimantan Selatan, bersanding dengan ‘Galuh’ menjadi pasangan ‘Nanang-Galuh’, seperti ‘Abang-None’-nya Jakarta.

Oh, rupanya di sini menerapkan student government di mana LEM dan DPM berada sejajar dengan Rektorat (kalo gak salah sih). Maba-miba juga diajarin manajemen aksi turun ke jalan. Bagi yang skeptis mungkin sudah berpikir, “Ah, baru jadi mahasiswa sudah diajarin demo”. Tapi bagi saya aksi turun ke jalan adalah salah satu bentuk aktualisasi dan penyampaian aspirasi juga menggalang simpati masyarakat. Meskipun banyak yang memandangnya sebagai kegiatan yang hanya buang-buang waktu dan tenaga, saya tetap mennganggapnya sesuatu yang krusial.

Di kunjungan stand kelembagaan (mungkin orang lebih familiar dengan istilah UKM) yang menarik perhatianku cuma Lembaga Pers Himmah. Bukan karena ditawari pinjaman kamera gratis, tapi lebih karena melihat divisi-divisinya yang menarik terutama divisi rancang grafis dan fotografi. Sayangnya markas LPM ini terlalu jauh dari kost dan kampus terpadu, padahal peminat yang kuliah di kampus terpadu tentu lebih banyak.

Satu lagi kejadian unik adalah saya dikira orang madura sama dua cewek farmasi. Gdubrak… Katanya logat saya pake bahasa Indonesia mirip jawa tapi lebih mirip kayak orang madura.

Hari kedua Pesta

Kegiatan pagi masih seperti hari sebelumnya, kena teriak-teriak dan berbaris di boulevard untuk dapat tempat duduk di lapangan psikologi. Tapi ada senam pagi yang kayaknya lebih jadi tontonan anak-anak, terutama pemandu yang cewek.:mrgreen:

Kali ini diadakan simulasi aksi di jalan. Tapi karena cuma simulasi, ya dilakukan di depan fakultas saja. Sedangkan beberapa orang yang mendaftar diikutkan langsung pada aksi di DPRD Yogya di malioboro. Saya sebenarnya sudah daftar, tapi tidak pada pendaftaran ulang karena langsung pulang. Ya gak jadi ikut deh.

Penutupan Pesta lumayan sore walau belum gelap, tapi kok pake acara kembang api segala ya? Kurang malam tuh😉

Pekta hari pertama

Gak ikut!

Padahal cocard khusus pekta sudah dibuat.

Pekta hari kedua

Yang pertama aja gak ikut, ngapain tiba-tiba nongol di hari kedua?

Salah satu anak-asrama-yang-kuliah-di-nuklir-dua-tahun-tapi-tiba-tiba-pindah-ke-psikologi sempat nakut-nakutin ke saya kalo ngisi KRS (kartu rencana study) itu biasanya pas ospek fakultas. Saya gak ambil pusing, salah satu senior saya di asrama yang satu kampus bilang “Ngapain sulit-sulit ngisi KRS pake kertas? Gak jaman lagi, sekarang mah jamannya online!” (saya cuma tersenyum penuh kemenangan)

-END OF REPORT-



2 Responses to “Kesan pertama begitu memPESONA, lalu TAARUF aaah”

  1. Mr. Strepp

    Kmu juga ga ikutan ospek tuh…

  2. Gyahahaha… senior fh ugm juga bilangnya gitu… bilangnya nanti dipersulit pas ngisi KRS ma yudisium… tapi gue mah ikut aja… mayan lah, bisa kenal 18 orang sekelompok… jadi pas hari pertama masuk kul jadi gak terlalu sendirian gitu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: