Linux itu susah (Balada Linuxer Part I)

12Des08

Tak terasa sudah hampir 2 bulan lebih saya hijrah ke Linux dan menelantarkan Vista yang menguasai sekitar 15GB ruang kosong hardisk. Selama ini saya fine-fine saja menggunakan Linux untuk kebutuhan sehari-hari (minus desain, karena belum terbiasa dgn GIMP & Inkscape), tidak ada masalah yang berarti.

Kalau dikilas balik awal mula saya mengenal Linux adalah saat teman akrab saya semasa SMP (sekarang dia di pesantren) bercerita tentang Linux yang dia lihat memiliki desktop 3D yang bisa diputar-putar, padahal saat itu masih peralihan dari Win98 ke XP. Saya tidak percaya sepenuhnya tapi menjadikannya pengetahuan bahwa selain punya Microsoft masih ada operating system lain.

Perjalanan saya sebagai Linuxer dimulai saat saya iseng membeli buku Linux Knoppix yang disertai Live CD. Saya tak menyangka kalau CD itu berisi OS, awalnya saya kira cuma file-file contoh dan pendukung sebagaimana kebanyakan buku komputer lainnya. Baru saya sadari (dengan bodohnya) kalau buku itu membahas OS bukan aplikasi umum, dan Linux itu opensource. Setelah mengetahui konsep LiveCD dari suatu tabloid komputer, tanpa pikir panjang saya mencobanya secara ‘Live’. Sayangnya harddisk saya masih 20GB dan hanya punya sisa space kurang dari 10% sehingga tidak dimungkinkan untuk menginstallnya ke harddisk.

Pencerahan datang setelah saya mendapat kucuran dana dari ‘bos’ untuk membeli harddisk baru sebesar 80GB buat komputer rumah. Karena saya yang bertanggung jawab memasang OS dan partisi, saya alokasikan 20GB untuk coba-coba Linux(saya bisa ditabok bila orang rumah gak bisa memakai komputer buat ngetik di Microsoft Word). Akhirnya berbagai macam distro saya cicipi. Beberapa distro yang beruntung itu adalah Puppy, Damn Small Linux (DSL), Knoppix, Slax Popcorn, Slackware 10, dan SuSE 10.

Distro paling enak saat itu bagiku adalah SuSE karena mudah menginstall aplikasi, tinggal buka YaST (atau ‘Yum’ ya?) dan masukkan CD installer yang ada 5 itu. Tapi tetap saja saya merasa aplikasi yang ditawarkan terbatas. Akhirnya saya berhenti sebagai pemakai linux dikarenakan sulitnya menambah aplikasi yang saya inginkan, tidak seperti saat memakai Windows. Saya berpikiran kalau semua aplikasi yang saya inginkan harus didapat melaluui download. Saya juga frustasi akan sulitnya mendownload dan mengkompilasi sourcecode program dari internet (saya sama sekali tidak mengerti konsep repository dan dependency).

Tak lama kemudian SuSE saya tak terawat dan akhirnya dihapus karena masih terbuai dengan kemilau jendela…



13 Responses to “Linux itu susah (Balada Linuxer Part I)”

  1. 1 Rian Xavier

    Dulu sempat liat demonya Fedora. Bisa dibuat 3d muter2 gitu ya? Hmm.. Jadi kepingin ganti lagi nih. Hehehe. Sekarang lagi pake vista pak tani. =)

    PERTAMAX DEH! =)

  2. 2 Rian Xavier

    Jarang2 dapet pertamax ini. Hehehe.

  3. @rian
    silakan mumpung sepi😛

    gak cuman fedora kok… selama VGA mendukung & bisa d’install compiz

  4. 4 lex G4m

    nggak coba blankon mas, distro bikinan anak negeri. http://blankonlinux.or.id

  5. ho oh., memank linux itu pertama kali njajal buat mumet bnget., tp setelah njajal, ga tw kenapa ada sedikit rasa candu untuk menggunakan nya., salam hangat cupu13

  6. Emang Linux tu tampila bagus…
    tapi juga bikin mbulet kalo gak dingertiin…

  7. @lex G4M
    bedanya ma ubuntu dari segi apa aja selain penampilan?
    aku lebih prefer make main distro nya aja… ubuntu

    @Bang Yovie
    tar semester3 praktikum SO anak2 sisjarkom yg ngajar ya?
    trus diajarin Linux gitu bang?

    @anderwedz
    dari tampilan bagus itu timbul rasa penasaran untuk menggali lebih dalam..😀

  8. wah…
    ntar kalo dah kebiasaan juga enak..
    kan keunggulannya virus2 disekitar kita hanya bisa menyerang file yang berformat exe
    jadi klo di linux gk mempan…
    aku pke PCLinuxOS

  9. @bang napi
    yup, kesan pertama memang susah.. tapi kalo udah terbiasa malah asyik… penuh misteri…:mrgreen:

  10. jangan ikut2 an ngredirect fs ke adsense ky q
    bahaya

  11. @Lucifer
    ini yg kmaren redirect pagenya aq komentarin ya?
    dasar,, kasian temen2ku…

    sini,, kucincang kau!!!😈

  12. coba pake ubuntu aja bro.. ubuntu ultimate 2.0 oke juga tuh.😀

  13. kalo enak gak enak. mending serahin ke linux desktop. pasti lebih manis. kalo masalah kucing percobaan kalo bisa cari LFS(Linux From Scratch) klo gak bisa slackware dan gentoo dah cukup kok.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: